Sabtu, 16 Juli 2022

Selamat Tinggal Covid

  


     Sebelum pandemi covid-19 menyerang, pembelajaran dilakukan dengan tatap muka. siswa belajar di kelas dengan teman dan guru. Guru mengajar dengan berdiri di depan kelas.  Siswa duduk berkelompok untuk berdiskusi mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Para siswa dilarang membawa gadget ke sekolah karena rawan penyalahgunaan. Ulangan dilakukan secara tertulis mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan oleh guru.  Saat bel berbunyi ditengah pembelajaran, para siswa siswa bersorak girang berhamburan keluar. ada yang langsung menuju kantin, ada yang ke lapangan main bola, beberapa siswi asyik merumpi dan banyak hal yang dapat dilakukan di saat istirahat maupun jam kosong karena guru yang berhalangan hadir walaupun sebenarnya ada tugas yang harus dikerjakan. mereka semua menikmati. asyik bukan?

    Pandemi Covid-19 tiba-tiba melanda dunia termasuk di Indonesia. Semua aspek kehidupan menjadi porak poranda tidak hanya bidang ekonomi , dunia pendidikan ikut terkena dampaknya. Selama kurang lebih dua tahun para pelajar mengalami perubahan besar dalam pembelajaran. Pembelajaran berbalik 360 derajat. pembelajaran dilakukan di dunia maya/online/Pembelajaran Jarak jauh. Guru dan siswa berada di ruang maya yang sama saling menatap tanpa mampu menyentuh. Para siswa harus memiliki Gadget dan kuota agar bisa belajar dan mengerjakan serta menyerahkan tugas. Buku mereka kosong, putih bersih, utuh sampai kenaikan kelas berikutnya. Miris kan? Sementara ada beberapa orang tua siswa yang terkena dampak Covid terpaksa usahanya gulung tikar, kena PHK dari perusahaan. Benar-benar Covid meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan. apa yang didapat siswa dari pembelajaran online? Maksimalkah? Yang hampir setiap hari menatap layar andoid maupun laptop dengan atasan seragam sekolah dan bawahan celana kolor ataupun offcame dan ditinggal tidur.  Siswa mengalami kehilangan pembelajaran dan bahkan ada yang tidak belajar apa-apa.

    Puji syukur Covid mulai menjauh meninggalkan kita. Pelan namun pasti kondisi mulai  kembali seperti semula. Sekolah mulai dibuka sedikit demi sedikit. Bahkan tahun ajaran baru mulai diberlakukan tatap muka. Berharap badai telah berlalu. Covid pergi selamanya. Pembelajaran menjadi normal kembali tanpa dibayangi rasa was-was. Siswa dapat ceria kembali bersenda gurau dengan kawannya. Guru lebih maksimal dalam mengajar. Aamiin YRA. 

1 komentar:

  1. Tulisan ini terasa sangat nyata dan dekat dengan apa yang kita alami beberapa waktu lalu.

    Gambaran tentang pembelajaran jarak jauh disampaikan dengan jujur, mulai dari keterbatasan kuota, kondisi orang tua, sampai realita di balik layar yang kadang tidak terlihat. Bagian “buku yang tetap kosong” itu benar-benar mengena, karena memang banyak siswa yang merasakan hal serupa.

    Syukurlah sekarang keadaan sudah mulai membaik dan sekolah kembali dibuka. Semoga momen ini bisa jadi titik awal untuk memperbaiki yang sempat tertinggal, dan pembelajaran ke depan bisa lebih bermakna. Terima kasih sudah menuliskan refleksi yang begitu jujur dan menyentuh ini 🙏

    BalasHapus